Tanjong Pandan 1835, ehmm sudah 173 tahun kota ini lahir, tumbuh, dan berkembang. Dengan usia komentator (kayak acara Mamamia di Indosiar he he ) yang masih muda tentu tak banyak referensi tentang Tanjung Pandan. Masa-masa perjuangan yang menyisakan sedikit cerita , tugu-tugu pahlawan, nama-nama jalan sepertinya tak akan beranjak dari kata ‘usang’ . Berganti kepada fenomena tuntutan hidup ala metropolis, dengan ungkapan sederhana “yang penting bagaimana bisa makan” , namun tentu penuh makna.
Rasanya sebuah ulang tahun bukan lagi sebuah hari yang dinanti-nantikan, tak pentinglah istilahnya. Lebih penting mencari lokasi tambang baru karena tempat lama sudah habis, lebih penting antri bensin dan solar untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, lebih penting ke kafe semak-semak untuk memuaskan nafsu dan menghabiskan uang hasil penjualan timah. Lebih penting meratapi anak yang tidak lulus ujian karena standar kelulusan yang semakin tinggi, atau bagi kami sendiri lebih penting memikirkan bagaimana website bahasa belitung yang sedang digarap ini berjalan dengan baik. Namun di satu sisi sebuah ulang tahun bagaikan sebuah momentum, bagi anak remaja bisa jadi sebuah momentum untuk menyatakan cinta, momentum untuk mengadakan acara dengan mengundang sahabat-sahabat, dan tentu bagi bakal calon Bupati ulang tahun kota Tanjung Pandan adalah sebuah momentum untuk lebih menaikkan pamor dengan berbagai kegiatan bertemakan ulang tahun. Momentum juga bagi Pemda untuk mengadakan berbagai kegiatan sosial, amal, perlombaan dsb. Momentum untuk lebih memperkenalkan kesenian daerah dengan berbagai macam kegiatan kesenian.
Setelah selesai acara , bulan pun berlalu , tahun pun berganti, moemntum itu datang lagi. Angkapun bertambah. Namun dibalik tatapan mata hati, ada sebuah kesedihan yang kadang tak terungkap. Terungkap pun tak bermakna. Panutanku yang sedang berulang tahun, bertambah umur namun sedikit perubahan yang kulihat, kudapati perubahan sifat yang tak kuhendaki, raut muka bertambah tua namun tak bertambah dewasa. Bangsal dibelakang rumahnya kini tambah reot , tak ada perbaikan , air sungai dibelakang rumah yang selalu jernih dan dalam, kini dangkal dan putih. Entahlah .. aku hanya melihat dengan sekejap mata, mungkin banyak perubahan positif didalam dirinya yang aku tak tahu, hanya raut mukanya yang terlihat letih, seperti sedang memikirkan sesuatu, ada pergolakan batin dimatanya, kadang tersenyum namun tak jarang keningnya berkerut lagi. Kutanya dia apakah yang dipikirkan ?? Dia menjawab : Aku sedang memikirkan ulang tahunku , yang selalu hadir tiap tahun. Entah apa lagi yang akan dibawakan anak-anak dan cucu-cucu ku kali ini, kuharap tak sama dengan tahun-tahun yang lalu yang selalu sama dari tahun ke tahun. Kuharap ada perubahan, tak harus materi. Tanahku masih luas namun tak tergarap dengan baik, bahkan kadang saling bertengkar hanya gara-gara tanah, padahal mereka tak sadar bahwa tanah itu punyaku. Selama aku masih hidup, tak seorangpun yang akan kubiarkan merusak tanah ladangku, kandang-kandang hewan ternakku. Tapi apa daya aku sudah tua, tanganku tak kuat …. Maukah engkau meneruskan perjuanganku nak ??? Tersentak aku dengan pertanyaan itu ….. terdiam…
Selamat ulang tahun Tanjung pandan ….. Teruslah berkiprah !