Tanjung pandan , 23 Des 2007
Begitulah pertanyaan dari belau tue laki yg setiap kali pulang kampung harus aku hadapi , walau pas pulang kemarin tdk ada lagi pertanyaan yg kunanti-nantikan itu he he ….
Dan pernyataan kawan SMA duluk nok la jadi pns kab belitung pas ketemu aku di depan barata : “Jan bebulak pasti kao balik ne nak ngikut tes PNS , ye kan ! “. Walau disambung oleh belau tue laki : Eee nok la mapan macam die mane kan nak jd pns ( walau dlm ati mapan dr hongkong he he )
Di tanjung pendam ditepi laut memandang pulau kalimoa termenung ku atas dua kalimat diatas . Tujuh (7) tahun lalu ketika lulus kuliah dan baru kerja serta sedang gencar2nya penerimaan pns babel , pertama kalinya aku dihadapkan dgn pertanyaan tersebut . Entah kenapa sampai saat ini aku tak berminat ( atau belum kali yah ) untuk jd pns , bukan berarti aku merendahkan pekerjaan pns karena terus terang aku tak siap dengan kondisi gaji relatif kecil dengan pekerjaan yg berat dalam arti kata melayani masyarakat bagiku berat tanggung jawabnya . Maaf bg yg tak sependapat bila kusebut gaji relatif kecil karena itulah pemikiran yg terlintas di otak . perbandingannya adalah gaji
pertamaku saja jauh lebih besar dari gaji orang tuaku yg nb sdh > 20 thn sbg pns . Itu jawabanku 7 thn lalu pd orang tua walau dijawab dengan lugas oleh orang tuaku bahwa dgn gaji segitu bisa membiayai kuliah 4 orang anaknya ( tinggal 1 orang yg msh kuliah ) , bisa beli kendaraan , punya rumah bagus dll. Aku tau kalau hitungan matematis gak mungkin , syukurlah orangtuaku ckp kreatif untuk menambah penghasilan , tahun 90 an berkebun sahang di belakang ruma , umak bejual jajak , atk, es sampai sekarang .
Hidup di belitung mesti kreatif salah satu kesimpulanku .
Berkaca pada teman2 yg bekerja di karawang , cikarang dan sekitarnya sepertinya masyakarat disana lbh bangga menjadi kary pabrik bila dibandingkan jd pns .
Korelasinya adalah menjadi pns adalah pilihan favorit bg sebagian besar ( mungkin ) masyarakat belitung , namun tanggung jawab yg besar itu terkadang tdk dibarengi reward yg setimpal seperti halnya guru, bagiku pns adalah abdi masyarakat , pekerjaan yg mulia tp mereka jg manusia yang punya keperluan serta cita-cita lain ( mungkin teman2 lain jg berpikiran sama ? )
Bisakah dikelola seperti swasta atau setidaknya bumn ? mungkin bisa tp salah satu faktor negatif adalah kantor pemerintahan tidak berproduksi secara langsung, mereka memberikan jasa bagi masyarakat tanpa adanya pemasukan secara langsung . Reward yg diberikan tergantung dari kebijakan pemerintah yg nb tergantung APBN . Adanya kenaikan gaji dibarengi dengan kenaikan harga2 yaa samjuhong dong kata belau tue laki …….. atau mkn bisa diusahakan dari PAD ( bisa kalo PADnya cukup besar ) .
atau PEMDA memiliki unit-unit usaha ? ( bisa walau beresiko memunculkan KKN baru )
Mencari lahan alternatif mesti dilakukan jika ingin bertahan , seperti yg marak terjadi adalah TI Timah , jual bbm eceran , dll , kalau dak kiape anak2 nak kuliah kate umak…..
Siapkah aku dengan kondisi itu ? Cukup kreatifkah aku dengan kondisi itu ? Jawaban yg perlu pembuktian memang , dan memang akan berbeda-beda untuk setiap orang dengan latar belakang yang berbeda .
Tagihan kartu kredit saja sama besarnya dengan gaji belau tue ( wah banyak utang nih ted )
atau hidupku telah terformat oleh gaya hidup ibu kota sehingga tak siap jika harus kembali ke desa ??
Atau aku tipe orang yg senang ada di comfort-zone ?? tdk berani utk menghadapi tantangan yg lbh besar ? atau .. ? atau ..?
Begitulah ….. aku tak mau membuat hal ini jadi rumit . The show must go on , aku akan tetap fokus pd bidang yg aku geluti. FOKUS , seperti kata salah seorang motivator .
Apapun bidang pekerjaan Anda , tetap fokus , fokus pada pengembangan yg sedang Anda kerjakan . kesuksesan tinggal mengikuti . Jangan selalu melihat rumput tetangga selalu lbh hijau dari rumput sendiri. Tapi pikirkan bagaimana caranya agar rumput kita lbh hijau dari rumput tetangga .
Salam Sukses Perenggu Sekalian !
Teddy Aprilianto
ICT Developer
0815 621 0303